” Afwan”, sebuah pemakluman

Diarsipkan di bawah: Renungan — evans at 8:54 am on Jumat, Agustus 21, 2009  Tagged ,

Tidak terlintas dalam pikiran saya kenapa saya ingin meng-upload file ini. Sekedar uneq-uneq yang mengganjal dihati. Sorry, maaf kata ini selevel maknanya dengan kata afwan. Mungkin perbedaan subyek yang menggunakan saja. Nah,kata ” afwan ” ini muncul beriringan dengan kata “ikhwan,akhwat,syukron, jazakillah” dsb. Komunitas ” anak mushola “, paradigma yang sebenernya tiak terlalu urgen untuk dibahas di kalangan masyarakat biasa. Hanya eksistensinya saja yang berbeda.
Saya memandang sebuah pemakluman kerja, ketika ada kata ” afwan” mulai bertengger diatas sebuah kebijaksanaan. Berlanjut ke acara curhat ceritanya nih :D, Di sebuah pendapa fakultas ada sekumpulan ” ikhwan ” dan ” akhwat” yang sedang membicarakan kerja terdengar seorang diantara mereka berbicara ” afwan, kemarin publikasinya belum saya tempel ” dua detik kemudian, ” afwan, saya tidak bisa mencari ustadz pengantinya”. Tiga detik kemudian masih terdengar kata ” afwan”. Ranah SKI sangat dominan memakai kata ” afwan ” ini .

Bukan apa-apa, sebenarnya adakah kita pernah berpikir kata ” afwan ” memacu kematanagn emosional kita. Menurut saya, kata ” afwan” ini sering kali dimaknai dengan sebuah pemakluman karena kinerja yang kurang beres. Boleh jadi seringnya penggunaan kata ” afwan” ini dijadikan parameter sinergi yang kurang mantap dan keprofesionalan kurang.

” Afwan”, kata yang bisa digunakan untuk belajar memahami orang lain,jangan disalah artikan sebagai fleksibilitas yang harus ada dalam ranah SKI sendiri.

Tulisan ini terilhami dari seorang Fadly Reza, trainer yang sepakat dengan argumen saya. Kalau boleh sedikit menuntut, jangan disalahgunakan ” ketsiqohan” yang selama ini sudah terbina gara-gara 5 huruf ini []

Berakhlak Mulia itu Menentramkan Hati

Diarsipkan di bawah: Bout Girls — evans at 8:51 am on Jumat, Agustus 21, 2009  Tagged

“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu,lalu (hati) kamu menjadi puas.”

Kuterangi jiwa dengn cita-cita yang kukejar Alangkah sempitnya hidup ini jika keluasan cita-cita tidak terbentang

Manusia adalah cermin bagi manusia yang lain. Jika seseorang berbudi pekerti luhur terhadap orang lain,maka orang lain pun akan berlaku serupa terhdapnya.Sehingga, urat sarafnya akan selalu tenag tanpa gejolak dan hatinya akan senantiasa damai. Berikutnya, ia akan merasakan bahwa dirinya hidup dalam masyarakat yang bersahabat.

Sebaliknya, bila seseorang berkepribadian buruk dan bersikap keras terhadap orang-orang di sekitarnya, maka mereka pun akan berlaku serupa terhdapnya.Dan barnagsiapa tidak menghormati ornag lain, maka orang-orang tidak akan menghormatinya.

Seorang yang berakhlak baik lebih dekat kepada ketenangan,jauh dari kegelisahan, dan keadaan yang menyengsarakan. Lebih dari itu, akhlak yang baik merupakan ibadah kepada Allah dan termasuk yang sangat dianjurkan oleh islam. Allah berfirman, ” jadilah engkau pemaaf,serulah orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A�raf:199). Dan firman Allah tentang kepribadian Rasulullah s.a.w. “Sebab rahmat dari Allah, maka kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,tentulah mereka menjauhkan diri darimu.Karena itu, maafkanlah mereka,memohonlah ampunan untuk mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka.kamu telah berbulat tekad,maka bertawakallah kepada Allah.Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imaran:159) Rasulullah s. a. w. bersabda,”Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dari kalian adalah yang paling baik akhlaknya,yang selalu merangkul kerika berjalan (menjaga persaudaraan) dan menyenangi dan disenangi.Orang yang paling aku benci dari kalian adalah yang suka mengadu domba,yang memisahkan antar orang yang saling mengasihi, dna mencari-cari aib orang yang bersih.”

Keraguan,rendah diri dan membelenggu diri dalam satu hal persoalan tanpa cita-cita itu hanya akan membuat manusia gelisah dan hilang keseimbangan.

“Doa Seorang Akhwat”

Diarsipkan di bawah: My Self — evans at 8:51 am on Jumat, Agustus 21, 2009  Tagged

Inilah goresan pena dari sang akhwat yang mendambakan ikhwan sholeh, yang bisa bersama untuk mencintai Mu Ya Robbi dan mencintai Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam.
Yaa……Rabbi……..
Aku berdoa untuk seorang ikhwan yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sangat mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
Seorang yang akan meletakkanku pada posisi di hatinya setelah Engkau dan Muhammad shallahu’alaihiwasalam
Seseorang yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk-Mu dan orang lain
Wajah, fisik, status atau harta tidaklah penting
Yang terpenting adalah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
Dan berusaha menjadikan sifat-sifat baikMu ada pada pribadinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup
Sehingga hidupnya tidak sia-sia
Seseorang yang memiliki hati yang bijak, tidak hanya otak yang cerdas
Seseorang yang tidak hanya mencintaiku, tapi juga menghormatiku
Seorang yang tidak hanya memujaku, tetapi juga dapat menasehatiku
Seseorang yang mencintaiku bukan karena fisikku, hartaku atau statusku tapi karena Engkau
Seorang yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang membuatku merasa sebagai wanita shalehah ketika aku berada di sisinya
Seseorang yang bisa menjadi asisten sang nahkoda kapal
Seseorang yang bisa menjadi penuntun kenakalan balita yang nakal
Seseorang yang bisa menjadi penawar bisa
Seseorang yang sabar mengingatkan saat diriku lancang
Ya..Rabbi……
Aku tak meminta seseorang yang sempurna
Hingga aku dapat membuatnya sempurna di mataMu
Seseorang yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya
Seorang yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya lebih hidup
Aku tidak mengharap orang yang semulia abu baker Radhiyallahu,
Atau setaqwa umar Radhiyallahu, pun setabah Ustman Radhiyallahu,
Ataupun sekaya Abdurrahman bin auf Radhiyallahu, setegar zaid Radhiyallahu
Juga segagah Ali Radhiyallahu, apalagi setampan usamah Radhiyallahu.
Aku hanya mengharap seorang ikhwan akhir zaman,
Yang punya cita-cita mengikuti jejak mereka,
Membangun keturunan yang sholeh,
Membangun peradaban,
dan membuat Rasulullah shallahu’alaihiwasalam bangga di akhirat
Karena aku sadar aku bukanlah semulia Fatimah Radhiyallahuanha, tidak setaqwa Aisyah Radhiyallahuanha ,Pun tidak secantik Zainab Radhiyallahuanha, apalagi sekaya Khodijah Radhiyallahuanha.
Aku hanyalah seorang wanita akhir zaman
yang punya cita - cinta
Ya…..Rabbii …….
Aku juga meminta, Jadikanlah ia sandaran bagiku
Buatlah aku menjadi akhwat yang dapat membuatnya bangga
Berikan aku hati yang sungguh mencintaiMu sehingga aku dapat mencintainya dengan sepenuh jiwaku
Berikanlah sifat yang lembut, sehingga auraku datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku mampu berdoa untuknya
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku dapat melihat banyak kebaikan dalam dirinya
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana,
Mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat
kokohnya benteng tidak bisa dibangun dalam semalam, namun bisa hancur dalam sedetik
Kota Baghdad tak dibangun dalam sehari, namun bisa hancur dalam sekejap
Dan bilamana akhirnya kami berdua bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakan:
” Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang
dapat membuat hidupku menjadi sempurna”.
Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segalanya indah pada waktu yang telah Engkau tentukan…
Amiiiin…

30 Hari Mencari Cinta

Diarsipkan di bawah: campur — evans at 8:49 am on Jumat, Agustus 21, 2009  Tagged

Ramadhan…..
Rasanya tak cukup ku menyambut kedatanganmu…
Senyum ini pun tak terlalu manis untukmu..
Semangat ini pun kurang terpompa untuk membersamaimu…
Ilmu kepemahaman tentang mu belum juga memuaskan batinku…

30 hari rasanya terlalu berat untuk menemukan cintaNya untuk-ku
30 Hari, cukup menegangkan bagiku menunggu keputusanMu
Ingin kudapatkan cintaNya, setelah 30 hari kulewati bersamamu…
10 hari pertama tlah Kau buka untuk menggugurkan dosaku, syahru maghfiroh…
10 hari kedua tlah Kau buka untuk memberi pembelajaran & keberkahan hidup, syahru tarbiyah…
10 hari ketiga tlah Kau buka untuk menyeleksi pribadi terkuat diantara kami, syahru Jihadiyah…

Setelah kau datang, aku lupa engkau tamu teramat mulia..
Aku lupa, semangat 11 bulan kedepan ada didirimu…
Aku lupa, sajian ruhiyahku untukmu kurasa sangat tidak mengenakkan..
Aku lupa, 10 hari terlewati dalam kondisi “ payah” tapi kutak perbaikinya
Aku lupa, kubutuh kau hilangkan takutku hadapi 11 bulan kedepanku…
Aku lupa, impianku untuk menghidupkan malamku dengan tangisku

Robb, Jangan biarkan hatiku bebal dan mati
Robb, Aku ingin menangis lepas………….
Robb, Dan aku ingin menangis bebas ………..

Mencari Pendamping Hidup

Diarsipkan di bawah: campur — evans at 12:31 pm on Sabtu, Agustus 1, 2009  Tagged

Suatu malam, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA keliling keluar masuk lorong kampung mengontrol keadaan rakyatnya, suatu pekerjaan yang rutin dilakukan beliau dalam kapasitas sebagai kepala negara. Tiba-tiba beliau mendengar sebuah percakapan menarik dari rumah seorang wanita penjual susu:“Ayo, bangunlah! Campurkan susu itu dengan air!”“Apakah ibu belum mendengar larangan dari Amirul Mukminin”“Apa larangannya, Nak?”“Beliau melarang umat Islam menjual susu yang dicampur air”“Ah, ayo bangun. Cepatlah kau campur susu ini dengan air. Janganlah engkau takut pada Umar, mana ada dia di sini!”“Memang Umar tidak melihat kita, Bu. Tapi Tuhannya Umar melihat kita. Maafkan ibu, saya tidak dapat memenuhi permintaanmu. Saya tidak ingin jadi orang munafik, mematuhi perintahnya di depan umum, tapi melanggar di belakangnya”.

Dialog ibu dan anak ini sungguh sangat menyentuh Umar. Khalifah yang terkenal keras itu pun luluh dan terharu hatinya. Beliau sangat kagum dengan ketakwaan gadis miskin anak penjual susu itu.Paginya beliau memerintahkan salah seorang putranya (Ashim) untuk meminang gadis miskin tersebut, “Pergilah kau ke sebuah tempat, terletak di daerah itu. Di sana ada seorang gadis penjual susu, kalau ia masih sendiri, pinanglah dia. Mudah-mudahan Alloh akan mengaruniakanmu dengan seorang anak yang shalih yang penuh berkah”.Firasat Umar benar. Ashim menikahi gadis mulia itu, dan dikaruniai putri bernama Ummu Ashim. Wanita ini lalu dinikahi oleh Khalifah Abdul Aziz bin Marwan, dan mereka mendapatkan seorang anak laki-laki yang kemudian juga menjadi seorang khalifah yang terkenal zuhud, adil dan bijaksana, yaitu: Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Radhiyallohu Anhu.
Dalam memilih calon pendamping, seringkali kita hanya melihat dari luarnya saja. Yang sering dicari oleh orang-orang pada saat ini hanyalah kekayaan/materi, ketampanan, kecantikan, dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Padahal semua hal yang bersifat duniawi akan musnah sewaktu-waktu. Boleh saja kita mencari calon pendamping hidup yang tampan, cantik, kaya, gagah. Namun yang paling utama dari semua itu, carilah calon pendamping yang memiliki iman yang kuat, taat pada perintah Allah. Hanya dengan pendampping hidup yang bertakwa, kita akan mampu menemukan kehidupan rumah tangga yang bahagia dan penuh rahmat, Insya Allah.Nabi saw sudah memberikan sebuah peringatan: “Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu bisa mencelakakan. Dan jangan kamu kawini wanita karena hartanya, mungkin hartanya itu bisa menyombongkannya. Akan tetapi kawinilah mereka karena agamanya, sesungguhnya seorang hamba sahaya yang hitam warna kulitnya tetapi beragama, itu jauh lebih utama”. (HR Ibnu Majah, Al-Bazar, dan Al-Baihaqi dari Abdullah bin Umar).

sumber dari : www.syahadat.com

panduan mencari jodoh

Diarsipkan di bawah: Renungan — evans at 12:24 pm on Sabtu, Agustus 1, 2009  Tagged

Dewasa ini angka bujang dan gadis yang belum menikah di usia kepala tiga semakin meningkat.
Dalam tulisan yang lalu sudah disinggung tentang ayat Allah SWT yang menjadi janji baku dalam perjodohan. Sederhana saja, yaitu jika ingin mendapatkan jodoh yang baik maka berusahalah menjadi pribadi yang baik.
Dalam kesempatan ini coba kita tinjau apakah ada usaha-usaha lain yang dapat dilakukan seseorang untuk mencari jodoh secara aktif dengan cara yang dapat dipertanggung jawabkan secara syariat Islam.
Dewasa ini angka bujang dan gadis yang belum menikah di usia kepala tiga semakin meningkat. Banyak alasan, antara lain karena semakin melonggarnya hubungan kekerabatan keluarga besar (extended family) yang mengakibatkan profesi ”mak comblang” menghilang, semakin tingginya pendidikan anak gadis yang membuat para bujang enggan melamar, semakin enggannya anak gadis dan bujang untuk segera menikah dengan alasan ”mau sekolah dulu” atau ”mau cari kerja dulu”, semakin enggannya anak muda menerima perjodohan keluarga dan lain-lain.
Pada gilirannya hal-hal ini sebenarnya membentuk semacam bom waktu diam-diam di kalangan keluarga yang memiliki anak gadis yang masih sendirian. Memang, budaya negeri kita masih memegang erat tradisi harus menikah bagi anggota keluarganya, agar tak diejek sebagai ”tidak laku” atau dianggap tidak memalukan keluarga. Budaya kita memang sedang berubah, namun masih ada yang mempedulikan hal-hal semacam ini.
Bagi mereka para ”singlers” (yang masih belum berpasangan) yang ingin melihat kemungkinan mencari jodoh, mudah-mudahan tips-tips berikut bermanfaat.
Pertama, fahami sifat takdir perjodohan, sebagaimana di tulisan lalu. Juga fahami sifat takdir secara umum yaitu : ditentukan oleh Allah baik siapa-nya, maupun kapannya. Apapun yang kita usahakan, baik mengarahkan keinginan dan usaha ke orang tertentu maupun menentukan waktu tertentu, akhirnya yang terlaksana adalah yang sudah ditentukan Allah SWT. Namun, Alhamdulillah sebagai manusia kita tak mengetahui yang ghaib kecuali yang diberitahu Allah. Dalam keadaan ketidak tahuan tersebut, terbukalah ruang doa dan usaha yang cukup luas. Dengan menyadari bahwa Pemilik segala urusan adalah Allah, maka seluruh harapan kita memang sebaiknya dikerahkan kepadaNya semata.
Kedua, sebanyak mungkin mempelajari apa saja yang menjadi tanggung jawab suami atau istri dalam sebuah rumahtangga Islami, kemudian mencoba mengukur diri seberapa jauh diri kita sudah sanggup memenuhi bagian kita. Jika anda wanita, maka apakah sudah siap menjadi istri sholihah yang diharapkan seorang suami yang sholeh? ”Siap berusaha menjadi…” bukan berarti sudah memastikan diri sudah sholeh atau sholihah. Manusia tidak akan mencapai titik sempurna, namun setiap usaha ke arah kebaikan akan disambut Allah dengan kesanggupan. Yang penting sudah termotivasi sesuai dengan penmahaman yang benar.
Ketiga, berbekal pengetahuan tentang profil rumahtangga Islami, maka kemudian buatlah semacam perencanaan atau gambaran kasar rumahtangga semacam apa yang anda inginkan bersama pasangan hidup anda kelak. Tentu disesuaikan dengan faktor-faktor budaya dan selera anda pada ruang-ruang yang dimungkinkan syariat Islam. Gambaran kasar ini Insya Allah akan berguna pada saat sang calon sudah ada. Perencanaan atau gambaran kasar ini adalah bahan diskusi dengannya. Banyak orang ketika sudah punya calon pendamping (misal pacar) kemudian mendiskusikan berbagai hal yang kurang penting, misalnya rumah seperti apa yang akan dipilih, bagaimana desain kamar tidur atau siapa nama anak nanti. Hendaknya diskusikanlah hal-hal terpenting, seperti komitmen untuk menegakkan Islam dalam rumahtangga dan bagaimana cara menyelesaikan konflik.
Keempat, maka mulailah ”perburuan jodoh” yang sebenarnya. Berburu? Ya, dengan cara yang benar. Berburulah di waktu-waktu sepertiga malam yang akhir, di atas sajadah dengan segala kerendahan hati, menghiba kepada sang Pemilik Urusan, yaitu Allah. Dalam berdoa, sebutkanlah lengkap segala krietria yang anda inginkan dan bagaimana gambaran rumahtangga yang anda harapkan. Akhirilah dengan pernyataan: ”Jika itu semua baik MenurutMu ya Allah, kabulkanlah segera dan mudahkanlah. Namun jika kurang baik MenurutMu, tunjukilah padaku yang lebih baik, dan siapkanlah diriku menerimanya, Amin.”Dengan memasang hati seperti ini, Insya Allah siapapun siap menerima takdir dan Insya Allah menadapat yang terbaik, sebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya.
Dalam langkah ke empat ini, ada beberapa kiat yang perlu dicatat. Dalam tahapan berburu melalui doa, hendaknya mempelajari keadaan-keadaan apa saja yang termasuk saat-saat mustajab dalam berdoa. Misalnya saat hujan baru mulai turun, saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sakit, saat sedang ada jenazah, antara adzan dan iqamat setiap waktu shalat wajib, saat tengah malam ketika tahajjud dlsb. Khususkanlah membaca doa untuk berburu jodoh ini pada saat-saat tersebut. Jika anda kebetulan sedang hajji, maka lebih banyak lagi alternatif tempat dan saat mustajab sepanjang perjalanan mulia tersebut.
Ada kisah, seorang yang akan berangkat haji diminta oleh tetangganya untuk mendoakan agar anak gadis si tetangga itu segera mendapat jodoh. Sang calon haji ini kemudian berangkat dan setiap ada kesempatan di manapun membaca doa-doa titipan handai taulan, iapun serius melakukannya setelah membaca doa-doanya sendiri. Sepanjang perjalanan hajinya yang 30 hari iapun berkali-kali membaca doa tetangganya tersebut, termasuk di depan Ka’bah dan di hari Arafah. Iapun pulang setelah meninggalkan tanah air selama sebulan. Betapa terkejutnya ia ketika sampai di rumah ia melihat bekas-bekas ada pesta kawinan di sekitar rumahnya, ternyata tetangganya kemarin baru saja menikahkan anak gadis mereka tersebut. Ia tidak diundang sebab, baru pulang keesokan harinya. Rupanya, proses lamaran dan aqad sedemikian capat dan lancar hingga dalam jarak kurang dari sebulan sudah selesai, padahal ketika minta didoakan sebelum tetangganya berangkat, sang anak gadis dan orangtuanya sama sekali belum punya bayangan siapa calonnya. Subhanallah, begitulah kekuatan doa. Wallahu a’lam

Jangan Nodai Jilbabmu (Sepakat!)

Diarsipkan di bawah: Bout Girls — evans at 9:18 am on Senin, Juli 27, 2009  Tagged

“ Di sebuah terminal bus antar kota, seorang laki-laki dengan wajah berlinangan air mata memandangi anaknya dan melepasnya dengan sebuah bus yang menuju ke sebuah kota nan dingin di belahan timur pulau jawa, sang bapak sedih kecewa lantaran perubahan yang terjadi pada anak gadisnya, kerudung anaknya yang menutup penuh aurot, membuatnya cemas sang gadis jauh dari jodohnya, sehingga ia merasa perlu menekan Di hari iniagar kerudung yang menutup kecantikan anaknya terlucuti kembali, berkali-kali kakak sang gadis menyakinkan bapaknya, bahwa jodoh adalah ketentuan 4jJI. Tidaklah pantas seorang wanita memamerkan keindahan tubuhnya hanya untuk memicingkan mata laki-laki yang belum tentu menjadi suaminya, termenung kakak sang gadis menatap langit jingga …”[ SP; Bara Dalam Tazkiyah” Galau” ]

Sebuah intro dari nasyid lokal, menginspirasi gerakan keybord untuk membantu sang kakak menyakinkan si gadis, yang entah si gadis itu sekarang ada dimana.

Jilbab, memandangnya sebuah hal yang biasa, Lumrah!. Memandangnya sebagai hal yang istimewa, Subhanalloh!. Jilbab yang kita sebut sekarang ini mengalami perkaburan makna, yang kita kenakan untuk menutupi kepala dan rambut muslimah sekarang ini bukan Jilbab, tapi khimar sedangkan jilbab itu sendiri adalah seluruh kain yang menjadi penutup aurot muslimah mulai dari ujung rambut sampai ujung kepala. Salah kaprah ini ternyata dianggap sesuatu yang lumrah, dan mungkin dianggap sesuatu yang wajar, toh salah kaprah fonem bahasa Indonesia yang lain sangat banyak. (why??).

Makhluk yang bernama wanita dipenuhi dengan segala keindahan dan kemolekan, sadar atau tidak sadar, tapi semestinya harus sadar. Wanita memiliki kekuatan yang luar biasa yang tidak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik, yaitu kekuatan cinta, empati, dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya mamou membangkitkan orang yang jatuh dan kesetiannya tak kekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan. Sejuta lirik tidak mampu melukiskan betapa indahnya seorang wanita. Tak elak segala keindahan yang dipunyainya menjadi sebuah ekploitasi tersendiri bagi lawan jenisnya. Dan keindahan itu adalah sesuatu yang harus dilindungi, disembunyikan dan bukan diobral gratisan. Dan jilbab syar’i adalah solusi.

Ini sebuah cerita nyata, dari sederetan pengalaman hidup dan analis kondisi yang obyektif. Melihat fenomena apik fatamorgana kehidupan sekitar kita, blogger cowdon (cowok hedon) lebih menyukai gadis berjilbab dengan pakaian yang ketat dan membentuk daripada gadis yang tidak berjilbab, sedangkan agak naik dikit cawan (calon ikhwan) lebih memilih gadis berjilbab biasa ga ketat dan pake rok, sedangkan yang ikhwan tulen silahkan memberi criteria sendiri, bahkan ada yang lebih menyukai gadis bercadar. Kenapa bisa begini?? Tanya kenapa ?!?

Walaupun ‘ikhwan’ hanyalah sebutan atas gelar untuk lebih memudahkan pemberian identitas seorang muslim berdasarkan tingkat kepemahaman diennya, sesuatu yang salah kaprah (lagi). Arti sebenarnya dari ‘ikhwan’ adalah saudara laki-laki, identik juga dengan sebutan ‘akhwat’, yaitu saudara perempuan. Yogya memang syarat dengan pengkaburan makna dan ke-eksklusifan, tapi menyenangkan dengan seperti ini. Eksklusif yang dipandang istimewa bukan underestimated . Eksklusif yang membisikkan kekuatan luar biasa untuk berubah menjadi pribadi lebih keren sesuai syari’ahNya.

10 Mei

Bahagia tak terkira…
Dimulai dari perkenalan itu dengan kubawa biodatanya, wajahnya mungil rambutnya pendek, sifatnya manja, tapi begitu mengenalnya entah ada kekuatan dari mana saya langsung menaruh rasa saying itu untukknya.

———-

Idola ; Nabi Muhammad

Tokoh Kesukaan ; harry Potter

Warna Favorit ; Pink & Hitam

Buku favorit : Supernova

Yang membuatmu bahagia : Berkumpul dengan keluarga.

——

Sebuah biodata uutukku, diserahi amanah baru di penghujung September tahun lalu. Diberi lautan mutiara aceh saja tak tertandingi dengan bahagia ini. Diberi jutaan pulsa As pun tak tertandandingi dengan bahagia ini. Diberi samudra coklat-pun tak tertandingi dengan bahagia ini. Sebuah anugerah istimewa di hari ini, tak terhingga jumlahnya.

Jilbab itu kini merekat kuat didirinya, dan busana muslimah amat pantasnya. Sayang ini, cinta ini telah ada untukmu sejak kali pertama kita bertemu. Bukan Karena apa-apa karena 4jJI semata. Cincin mingguan itu telah menyatukan kita, cincin atas dasar ukhuwah bukan kepartaian. Ukhuwah ini, sayang ini akan bersemi terus selamanya. Walau nanti kita ga satu cincin lagi, engkau tetap menggores warna kasih dalam hati.

Terimakasih Robb, Engkau memberi jalan kemudahan baginya..

Terimakasih Robb, Engkau satukan hati kami dalam keindahan tawakal kepadamu

Terimakasih Robb, Engkau pertemukan saya dengannya.

Terimakasih Robb, untuk nikmatmu yang tak terkira, saya bahagia di hari ini.

Ga nyangka 15 menit bisa nulis sepanjang ini . Memories di loker N5 UPT 1 UGM jam 12. 45 saat yang terdengar bunyi kipas angin yang memberi nuasa tersendiri di hari ini.

Buwat de S***a, Semoga Istiqomah adekku sayang,.. semoga kita masih diberi kesempatan memperbaiki diri

Sudahkah Kita Tarbiyah?

Diarsipkan di bawah: campur — evans at 9:16 am on Senin, Juli 27, 2009  Tagged

Berawal dari kunjungan seorang teman adek kos, yang curhat ketidakbetahannnya di kos barunya, padahal kos barunya penuh dengan akhwat yang udah mateng tarbiyahnya, akhwat tulen tapi dari sisi lain si akhwat ga resikan, ga peka lingkungan, n egois banget, suka nyakitin perasaan orang lain. Ternyata ada akses yang tak bisa kita mungkiri, bahwa memang perbaikan diri selalu harus mempunyai priorotas awal sehingga hal-hal yang sifatnya kepribadian dan karakter yang ga Islami harusnya sudah terlkikis habis selama kita menjalani proses berIslam., Wagh memang bukan sebuah kerja yang instan. Sebuah buku karangan Eko Novianto yang
berjudul Sudahlah kita tarbiyah, mungkin bisa dijadikan cermin sejauh mana liqo pekanan kita mampu menggembleng kita, atau malah mengkerdilkan potensi dan menyamarkan identitas diri sebagai seorang muslim kaffaah.

Refleksi seorang Muttarobi

1.Kegagalan Tarbiyah
a.Tarbiyah dipandang semata-mata sebagai transfer materi
b.Persepsi bahwa murrobi adalah segalanya bagi mad’u. , akibatnya
Mad’u menjadi kerdil bagai katak dalam tempurung
Mad’u memberontak dan senantiasa terjebak dalam ketidakpuasan.
Mad’u berkembang ssejalan dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas atas yaitu setinggi kemampuan murrobinya dan mustahil melebihinya.
c.Tarbiyah dianggap sebagai proses indoktrinasi dan dominasi
d.Sistematika dan metodologi tarbiyah dipersepsikan sebagai hal yang baku.
e.Kecenderungan untuk melakukan ‘kloning’ murrobi. Kecenderungan Hobi, syu’ur, selera, kegemaran dan beberapa hal yanbg sebenarnya adalah privacy murrobi kadang menjadi muwashoffat (spesifikasi-ed) dan ukuran keberhasilan tarbiyah.

2.Sudahkah kita Tarbiyah
Pertanyaan yang harus dijawab oleh semua
a.Kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki Murrobi
b.Kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki liqo’ pekanan
c.Kita telah tarbiyah, karena kita telah mendapatkan materi yang berkelanjutan.
Apakah kita tarbiyah hanya ‘sekedar’ simbol diatas? Adakah parameter yang lebih dapat dipertanggungjawabkan pada masa depan kit adan tentu saja dapat dipertangungjawabkan pula di hadapan Allah SWT.
Visi tarbiyah adalah ide tentanghasil yang diharapkan dari proses tarbiyah serta sesuatuyang memotivasi tim tarbiyah dalam bekerja. Sedangkan visi tarbiyah diformulasikan sebagai berikut.
Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi seorang dai yang produktif dan mampu menanggung beban dakwah
Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi pribadi yang memiliki wawasan ilmiah dengan berbagai ilmu pengetahuan.
Tarbiyah mendukung potensi setiap orang demi mendukung dan mewujudkan cita-cita sedapat mungkin.
Sehingga parameter liqo’ pekanan dan seseorang yang memiliki murrobi dan jadwal liqo’ pekanan ada juga yang tidak mencerminkan hasil yang diharapkan.

Tiga akar kata tarbiyah adalah sbb:
a.Raba-yarbu = bertambah dan berkembang
b.Rabiya-yarba = tumbuh dan berkembang
c.Rabba-yarubbu = memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga dan memperhatikan.
Tarbiyah  sebuah proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaanya.
Abdurrahmah Badawi mengambil 4 unsur penting dalam pendidikan,
a.Menjaga dan memelihara fitrah objek didik
b.Mengembangkan bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing.
c.Mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan.
d.Dilakukan secara bertahap.

Parameter aspek untuk menjawab apakah kita sudah tarbiyah?
1.Kita sudah tarbiyah jika kita sudah terbuka dengan perubahan.
2.Kita sudah tarbiyah jika kita mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap agresif.
3.Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri.
4.Kita sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif.
5.Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri.
6.Kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaanm tetapi tidak emosional.
7.Kita sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan
8.Kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir relatif.

3.Orientasi kita Menentukan Isi Kita Pada Hari Ini
Orientasi kita hari ini akan menentukan isi (value) hari ini juga. Dan orientasi kita pada hari ini menentukan masa depan kita. Sebuah kegagalan jika orientasi kita didominasi dipegang oleh pihak yang agak aktif maka kelompok agak aktif dan mendefinisikan kelompok orang yang cukup aktif sebagai kelompok yang tidak aktif, sedankan kelompok orang yang aktif sebagai kelompok orang yang terlalu aktif.

4.Dinamika
Futur nya sebagaian peserta tarbiyah disebabkan karena kekaburannya menatap dinamika dakwah. Dinamika adalah kawan akrab perjuangan, maju dan mundur, naik dan turun, juga diam dan berteriak, peran yang hanya tinggal menunggu saat penggunaan. Berteriak ketika harus berteriakl dan diam ketika harus diam. Itulah dinamika. Tak semua dari kita yang bisa mengikuti dinamika. Karena, yak mudah untuk diam ketika nafsu mengajak untuk berteriak sekeras-kerasnya dan sulit untuk maju ketika kita tak ingin melakukannya. Tak ada perjuangan yang tak terdampar dinamika. Perjuanagn tanpa dinamika adalah keangkuhan, karena keangkuhan memang tidak memerlukan dinamika.

5.Mewaspadai futur karena overload informasi
Pemahaman kita tentang Islam yang syamil, kamil, dan mutakamil menciptakan kesadaran bahwa kita adalah potensi yang spesifik dan terbatas (juz’iyah ma’dudah). Kesadaran yang mengantarkan bahwa kita perlu kerja sama dan komunikasi. Kerjasama dan komunikasi melembaga dalam bentuk berbagai organisasi dakwah. Kerjasama dan komunikasi inipun apabila terlalu banyak informasi yang terlalu banyak yang diakses, akan menyebabkan kekurangan dalam menagemen. Hal yang selalu mudah untuk kita jadikan kambing hitam adalah struktur dan yang paling mudah kit atuding adalah rekan sejawat dan followers. Hal yang tidak mudah kita bangun adalah jaringan ideal informasi, sebuah jaringan yg tidak sangat berhajat pada satu orang dan tidak macet disana-sini. Spesialisasi dan kejelasan ruang lingkup tugas merupakan tahap awal menghindari overloadinformasi. Kesadaran bahwa suasana dakwah adalah amanah dan bukan suasana kewenangan. Membatasi kerja secara proporsional sesuai wewenang dan kemampuan adalah upaya penjagaan keseimbangan, sebagaimana menjaga keseimbangan hubungan antara jasmani, ruhani, dan akal, serta lainnya.

6.‘Ilaj (Pelanggaran Syar’I oleh kader, antara ‘keniscayaan’ dan Indikasi penurunan kualitas. )
Pelanggaran-pelanggaran ini bisa meliputi pelanggaran syar’I dalam urusan muamalah maupun urusan dakwah. Pelanggaran inipun adalah pelanggaran yang disengaja atau pelanggaran yang terjadi atas nama kebodohan. Kasus-kasus pelanggaran syar’I yang terjadi memang dapat digunakan sebagai data oengambilan kesimpulan bahwa memang telah terjadi penurunan kualitas kader. Pelanggraan2 oleh kader dakwah inimenjadsi semakin mencolo bila dibandingkan dengan jumlah dan variasi pelanggaran di era-era sebelumnya. Persoalannya apakah kita cukup cerdas menangkap peluang itu, atau kita hanyalah sebagai penikmat dan penggunjing yang menggunjing dan menikmati penurunan kualitas itu, baik penurunan kualitas kita, kualitas saudara kita.

Akibat dari ilaj
1.Menghasilkan kekeringan ruhiah bagi kadernya
2.Ukhuwahnya adalah ukhuwah yang cacat
3.Mercerminkan minimnya penguasaan ilmu syar’i.
Solusi  Qiyadah dakwah dan jajarannya dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola masalah dan senantiasa mengarahkan menjadi proses tahqiq syar’I dalam kehidupan berjamaah.

7.Tak ada Ikhwah Yang Tak Retak
Prinsip harmni yang harus dikembangkan oleh seluruh jajaran ikhwah
a.Pengakuan eksistensi
b.Tidak keunggulan yang bersifat normative – mutlak
c.Menyadarkan keunggulan dan kelemahan.
d.Menyadarkan potensi-potensi ‘kerakusan’
e.Menyadarkan relativitas senior dan relativitas yunior.
f.Menyadarkan kebutuhan nutrisi
Seorang ikhwan sangat disiplin liqo’, meski ia bukan ‘pemenang’ dalam berhubungan baik dengan para tetangganya. Seorang menonjol dalam prestasi dakwahnya meski ia bukan sosok yang baik bagi keluarganya. Seorang kader yang menonjol dalam maisyahnya di tenagh kelemahannya dalam mengisi liqo’ atau halaqoh taklim. Seorang kader dipandang sebagai pakar keluarga meski ia kerap meski ia mengabaikan tugas-tugas jama’inya. Seorang ikhwan dan juga akhwat menonjol di bidang akademiknya bersmaan denagn lemahnya interaksi dengan saudaranya. Seorang yang dihormati istri dan disayang anaknya walaupun beberapa mutarobinya ingin berpindah darinya. Seorang ikhwah yang ahli merencana dan memproyeksikan, tapi kerap mengecewakan dalam implementasinya.

Arogansi struktur kepada ikhwah, buruknya teladan p[ara ikhwah, manipulasi struktur, dan ketidakadilan social adalah peluang setan untuk embghembuskan virus individualisme dalam tubuh jamaah ini. Sementara, posisi ukhuwah sudah jelas. Kiranya kita perlu mendiskusikan tentang penguatan kepentingan indivisu dalam amal jama’I ini. Persoalanya bukanlah siapa mengalahkan siapa, akan tetapi bagaimana mengakui kepentingan yang lain, baik kepentingan individu ataupun dakwah.

8.Murobbi sebagai Qoddi
Islam membentuk mentalitas ilmiah dengan cara menolak sikap emosional serta menetapkan fungsi netral dan obyektif. Murrobi kerap kali sult menghindarkan diri dari peran qodi. Beberapa episode kehidupan murrobi menunjukkan bahwa pada kenyataan kesehariannya seorang murrobi sulit untuk tidak berperan sebagai qpdi.. Seorang murrobi sulit untuk tidak menjadi qodi ketika mendapatkanpengaduan dari seorang anggotanya tentang ketidakadillan anggotanya yang lain. Seorang murrobi juga sulit untuk tidak menjadi qodi ketika friksi atau konflik anatara anggota denagn pasanganya. Murrobi dituntut untuk memberikan keputusan , atau memberikan sebuah pendapat 9hukum) atau menyelesaikan perselisihan atau persengketaan. Sebaliknya, jika peran qodi ini tidak berjalan dengan efektif maka akan lebih banyak permasalaha yang harus diselesaikan oleh struktur dakwah. Hal ini akan memebrikan pengaruh negatif terhadap efisiensi dakwah.

Murrobi harus belajar yang berkesinambungan untuk menjadi qodi sebagai konsekuensi dari urgensi fungsi murrobi sebagai qodi bagi anggotanya. Dengan proses pembelajaran yang baik dan berkesinambungan, seseorang akan memeliki kemampuan yang baik. Sebaliknya, kemalasan dan keengganan untuk belajar menjadikan seorang murrobi memiliki beberapak kekurangan dalam menjalankan tugas.

Urgensi penguasaan funngsi qodi bagi murrobi

a.Islam menganggap fungsi qodi sebagai fungsi penting kekhilafahan
b.Asas pertama dari peradilan Islam adalah khilafah ynag adil
c.Menjadi qodi adalah tugas para nabi.
d.Islam adalah peradilan
e.Murrobi menjadi qodi merupakan keniscayaan dan kebutuhan diri.

Dear Ukhti

Diarsipkan di bawah: Puisi — evans at 8:20 am on Jumat, Juli 24, 2009  Tagged

Untuk Ukhti Tersayang

Dear Ukhti…
apa kabar imanmu hari ini
semoga selalu menapak maju
apa kabar hatimu hari ini
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
apa kabar cintamu hari ini
semoga selalu berpeluh rindu pada Nya…

Ukhti..
sungguh indah hidup setelah menikah
apa yang sebelumnya haram menjadi halal
semua perbuatannya mendapat pahala yang berlimpah di sisiNya
suka duka dilalui berdua
senang sedih ada yang menemani
tawa tangis pun bersama

Ukhti..
menikah adalah setengah dien
dan ia menggenapkan dien menjadi satu
sungguh, menikah seperti melihat dunia lain yang tiada pernah
dikunjungi sebelumnya
apa yang tidak bisa dilihat sebelum menikah kini tidak lagi
seakan membuka mata kanan yang sebelumnya belum pernah dibuka
begitu luas, begitu indah, hingga Rasul pun menyunnahkan suatu
pernikahan ini
“bukan termasuk ummatku, jika ia berkeinginan tidak menikah…”

Ukhti..
menikah adalah keputusan besar dari suatu perjanjian berat
pernah ada yang berkata..
“saat akad diucapkan Arsy tertinggi berguncang karena suatu
perjanjian
berat diucapkan, karena itu saat akad terjadi ada tangis
disana..tangis
suka, tangis duka…”
Allah menjadi saksi karena Dia Yang Maha Melihat lagi Menatap
dan setiap undangan yang datang akan mendoakan pernikahan ini

Ukhti..yang sedang menanti “terkasih”
nanti-lah dengan sabar
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu
siapkan dirimu, hatimu..
sangat mudah bagiNya memberikan “terkasih” untukmu ataupun tidak
berharap dan mintalah padaNya..
pemilik alam raya dan pencipta “terkasih”mu

Ukhti..yang sedang menjelang akad
berdoa-lah selalu padaNya
penentu segalaNya…
mohon petunjukNya jika “terkasih” adalah yang terbaik untukmu
kemudahan, juga kelancaran dalam peristiwa besar nanti
sungguh, Allah Maha Tau yang terbaik untuk dirimu..
siapkan dirimu, hatimu..

Ukhti..yang telah menikah
jagalah nikmatNya yang besar ini
hanya dengan izinNya dirimu dan “terkasih”mu bersatu, tiada yang lain
jadilah penyejuk hati dan pandangannya. .
menjadi istri sholehah dambaan..

Ukhti..
bahagiamu adalah bahagiaku
sedihmu juga sedihku
tawamu, tawaku juga
tangismu adalah tangisku
semoga Allah Yang Maha Indah,
memudahkan langkah ini..
memberikan yang terbaik menurutNya
dan menjadikan wanita dan istri juga ibu sholehah

Manfaat Shalawat

Diarsipkan di bawah: Renungan — evans at 8:19 am on Jumat, Juli 24, 2009  Tagged

Manfaat Shalawat

Shalat dan shalawat terjemahan harfiahnya sebenarnya sama yaitu doa, tetapi shalat dalam arti ritual ibadah (shalat maghrib misalnya) adalah ritual ibadah yang terdiri dari gerak, bacaan dan doa. Sedangkan shalawat Nabi adalah doa yang secara khusus diperuntukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan keluarganya.

Mengapa Nabi Muhammad yang sudah dibebaskan dari dosa (ma`shum) masih harus didoakan segala oleh kita, bukankah itu sudah tidak perlu ? Konsep shalawat adalah konsep syafa`at. Dalam teologi Islam dikatakan bahwa Nabi Muhammad memiliki “otoritas” syafa`at, yakni perlindungan kepada ummatnya kelak nanti di hari kiamat, ketika tidak ada lagi yang bisa memberikan perlindungan.

Orang yang berpeluang memperoleh syafa’at Nabi adalah orang yang mencintainya. Wujud dari cinta Rasul dibuktikan dengan membaca salawat itu. Nabi sendiri secara konsepsional sudah tidak memerlukan doa dari ummatnya, jadi shalawat itu bukan untuk kepentingan Nabi, tetapi kepentingan kita. Jika Nabi diibaratkan sebuah gelas, ia sudah penuh dengan air putih bersih, nah orang yang membaca shalawat Nabi ibarat menambahkan air ke dalam gelas yang sudah penuh itu dengan harapan memperoleh luberannya, yakni luberan syafa`atnya. Jangankan kita manusia, menurut al Qur’an, Allah dan malaikatpun membaca salawat kepada Nabi sehingga orang beriman juga diperintahkan untuk bersalawat dan salam kepadanya; Innalloha wa mala’ikatahu yushalluna `alan nabiy, ya ayyuhalladzina amanu shallu `alaihi wa sallimu taslima (Q/33:56).

Pembacaan shalawat Nabi sebagai ekpressi cinta kepada Rasul kemudian melahirkan kreatifitas seni. Bukan saja dalam teks-teks doa shalawat dibaca, tetapi juga dalam nasyid, dalam syair, dalam lagu. Dalam teks doa, banyak sekali format salawat dibuat, misalnya ada shalawat Nariyah, shalawat tunjina, shalawat anti kezaliman.

Dalam seni ada sebuah karya epik sejarah Nabi , terkenal dengan Barzanji atau orang Betawi menyebutnya Rawi. Di dalam kitab Barzanzi, riwayat Nabi dikisahkan dalam kalimat yang sangat indah, enak dibaca dan enak di dengar. Demikian juga kasidah Barzanji yang berisi shalawat dan pujian kepada Nabi disusun dalam karya seni yang sangat tinggi kualitasnya.

Buku kasidah Barzanji atau Rawi adalah karya seni yang terbanyak pembacanya dan karya seni yang tidak pernah basi hingga hari ini, hingga pada segmen masyarakat tertentu, kitab Barzanji bagaikan kitab suci kedua… Barzanji dibaca oleh bangsa-bangsa muslim di Asia dan Afrika, ritmenya bisa didendangkan dengan berbagai lagu. Mari bersalawat dan bersalam kepada Nabi ;

Ya Nabi salam `alaika –ya Rasul salam `alaika –
ya habib salam `alaika—shalawaatulllah `alaikaaaaaa……….

hayo…barengg…..

Halaman Berikutnya »