Berawal dari kunjungan seorang teman adek kos, yang curhat ketidakbetahannnya di kos barunya, padahal kos barunya penuh dengan akhwat yang udah mateng tarbiyahnya, akhwat tulen tapi dari sisi lain si akhwat ga resikan, ga peka lingkungan, n egois banget, suka nyakitin perasaan orang lain. Ternyata ada akses yang tak bisa kita mungkiri, bahwa memang perbaikan diri selalu harus mempunyai priorotas awal sehingga hal-hal yang sifatnya kepribadian dan karakter yang ga Islami harusnya sudah terlkikis habis selama kita menjalani proses berIslam., Wagh memang bukan sebuah kerja yang instan. Sebuah buku karangan Eko Novianto yang
berjudul Sudahlah kita tarbiyah, mungkin bisa dijadikan cermin sejauh mana liqo pekanan kita mampu menggembleng kita, atau malah mengkerdilkan potensi dan menyamarkan identitas diri sebagai seorang muslim kaffaah.
Refleksi seorang Muttarobi
1.Kegagalan Tarbiyah
a.Tarbiyah dipandang semata-mata sebagai transfer materi
b.Persepsi bahwa murrobi adalah segalanya bagi mad’u. , akibatnya
Mad’u menjadi kerdil bagai katak dalam tempurung
Mad’u memberontak dan senantiasa terjebak dalam ketidakpuasan.
Mad’u berkembang ssejalan dengan tarbiyahnya, tetapi memiliki batas atas yaitu setinggi kemampuan murrobinya dan mustahil melebihinya.
c.Tarbiyah dianggap sebagai proses indoktrinasi dan dominasi
d.Sistematika dan metodologi tarbiyah dipersepsikan sebagai hal yang baku.
e.Kecenderungan untuk melakukan ‘kloning’ murrobi. Kecenderungan Hobi, syu’ur, selera, kegemaran dan beberapa hal yanbg sebenarnya adalah privacy murrobi kadang menjadi muwashoffat (spesifikasi-ed) dan ukuran keberhasilan tarbiyah.
2.Sudahkah kita Tarbiyah
Pertanyaan yang harus dijawab oleh semua
a.Kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki Murrobi
b.Kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki liqo’ pekanan
c.Kita telah tarbiyah, karena kita telah mendapatkan materi yang berkelanjutan.
Apakah kita tarbiyah hanya ‘sekedar’ simbol diatas? Adakah parameter yang lebih dapat dipertanggungjawabkan pada masa depan kit adan tentu saja dapat dipertangungjawabkan pula di hadapan Allah SWT.
Visi tarbiyah adalah ide tentanghasil yang diharapkan dari proses tarbiyah serta sesuatuyang memotivasi tim tarbiyah dalam bekerja. Sedangkan visi tarbiyah diformulasikan sebagai berikut.
Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi seorang dai yang produktif dan mampu menanggung beban dakwah
Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi pribadi yang memiliki wawasan ilmiah dengan berbagai ilmu pengetahuan.
Tarbiyah mendukung potensi setiap orang demi mendukung dan mewujudkan cita-cita sedapat mungkin.
Sehingga parameter liqo’ pekanan dan seseorang yang memiliki murrobi dan jadwal liqo’ pekanan ada juga yang tidak mencerminkan hasil yang diharapkan.
Tiga akar kata tarbiyah adalah sbb:
a.Raba-yarbu = bertambah dan berkembang
b.Rabiya-yarba = tumbuh dan berkembang
c.Rabba-yarubbu = memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga dan memperhatikan.
Tarbiyah sebuah proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaanya.
Abdurrahmah Badawi mengambil 4 unsur penting dalam pendidikan,
a.Menjaga dan memelihara fitrah objek didik
b.Mengembangkan bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing.
c.Mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan.
d.Dilakukan secara bertahap.
Parameter aspek untuk menjawab apakah kita sudah tarbiyah?
1.Kita sudah tarbiyah jika kita sudah terbuka dengan perubahan.
2.Kita sudah tarbiyah jika kita mampu bersikap tegas dan menghindarkan diri dari sikap agresif.
3.Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri.
4.Kita sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif.
5.Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri.
6.Kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaanm tetapi tidak emosional.
7.Kita sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan
8.Kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir relatif.
3.Orientasi kita Menentukan Isi Kita Pada Hari Ini
Orientasi kita hari ini akan menentukan isi (value) hari ini juga. Dan orientasi kita pada hari ini menentukan masa depan kita. Sebuah kegagalan jika orientasi kita didominasi dipegang oleh pihak yang agak aktif maka kelompok agak aktif dan mendefinisikan kelompok orang yang cukup aktif sebagai kelompok yang tidak aktif, sedankan kelompok orang yang aktif sebagai kelompok orang yang terlalu aktif.
4.Dinamika
Futur nya sebagaian peserta tarbiyah disebabkan karena kekaburannya menatap dinamika dakwah. Dinamika adalah kawan akrab perjuangan, maju dan mundur, naik dan turun, juga diam dan berteriak, peran yang hanya tinggal menunggu saat penggunaan. Berteriak ketika harus berteriakl dan diam ketika harus diam. Itulah dinamika. Tak semua dari kita yang bisa mengikuti dinamika. Karena, yak mudah untuk diam ketika nafsu mengajak untuk berteriak sekeras-kerasnya dan sulit untuk maju ketika kita tak ingin melakukannya. Tak ada perjuangan yang tak terdampar dinamika. Perjuanagn tanpa dinamika adalah keangkuhan, karena keangkuhan memang tidak memerlukan dinamika.
5.Mewaspadai futur karena overload informasi
Pemahaman kita tentang Islam yang syamil, kamil, dan mutakamil menciptakan kesadaran bahwa kita adalah potensi yang spesifik dan terbatas (juz’iyah ma’dudah). Kesadaran yang mengantarkan bahwa kita perlu kerja sama dan komunikasi. Kerjasama dan komunikasi melembaga dalam bentuk berbagai organisasi dakwah. Kerjasama dan komunikasi inipun apabila terlalu banyak informasi yang terlalu banyak yang diakses, akan menyebabkan kekurangan dalam menagemen. Hal yang selalu mudah untuk kita jadikan kambing hitam adalah struktur dan yang paling mudah kit atuding adalah rekan sejawat dan followers. Hal yang tidak mudah kita bangun adalah jaringan ideal informasi, sebuah jaringan yg tidak sangat berhajat pada satu orang dan tidak macet disana-sini. Spesialisasi dan kejelasan ruang lingkup tugas merupakan tahap awal menghindari overloadinformasi. Kesadaran bahwa suasana dakwah adalah amanah dan bukan suasana kewenangan. Membatasi kerja secara proporsional sesuai wewenang dan kemampuan adalah upaya penjagaan keseimbangan, sebagaimana menjaga keseimbangan hubungan antara jasmani, ruhani, dan akal, serta lainnya.
6.‘Ilaj (Pelanggaran Syar’I oleh kader, antara ‘keniscayaan’ dan Indikasi penurunan kualitas. )
Pelanggaran-pelanggaran ini bisa meliputi pelanggaran syar’I dalam urusan muamalah maupun urusan dakwah. Pelanggaran inipun adalah pelanggaran yang disengaja atau pelanggaran yang terjadi atas nama kebodohan. Kasus-kasus pelanggaran syar’I yang terjadi memang dapat digunakan sebagai data oengambilan kesimpulan bahwa memang telah terjadi penurunan kualitas kader. Pelanggraan2 oleh kader dakwah inimenjadsi semakin mencolo bila dibandingkan dengan jumlah dan variasi pelanggaran di era-era sebelumnya. Persoalannya apakah kita cukup cerdas menangkap peluang itu, atau kita hanyalah sebagai penikmat dan penggunjing yang menggunjing dan menikmati penurunan kualitas itu, baik penurunan kualitas kita, kualitas saudara kita.
Akibat dari ilaj
1.Menghasilkan kekeringan ruhiah bagi kadernya
2.Ukhuwahnya adalah ukhuwah yang cacat
3.Mercerminkan minimnya penguasaan ilmu syar’i.
Solusi Qiyadah dakwah dan jajarannya dituntut untuk memiliki kemampuan mengelola masalah dan senantiasa mengarahkan menjadi proses tahqiq syar’I dalam kehidupan berjamaah.
7.Tak ada Ikhwah Yang Tak Retak
Prinsip harmni yang harus dikembangkan oleh seluruh jajaran ikhwah
a.Pengakuan eksistensi
b.Tidak keunggulan yang bersifat normative – mutlak
c.Menyadarkan keunggulan dan kelemahan.
d.Menyadarkan potensi-potensi ‘kerakusan’
e.Menyadarkan relativitas senior dan relativitas yunior.
f.Menyadarkan kebutuhan nutrisi
Seorang ikhwan sangat disiplin liqo’, meski ia bukan ‘pemenang’ dalam berhubungan baik dengan para tetangganya. Seorang menonjol dalam prestasi dakwahnya meski ia bukan sosok yang baik bagi keluarganya. Seorang kader yang menonjol dalam maisyahnya di tenagh kelemahannya dalam mengisi liqo’ atau halaqoh taklim. Seorang kader dipandang sebagai pakar keluarga meski ia kerap meski ia mengabaikan tugas-tugas jama’inya. Seorang ikhwan dan juga akhwat menonjol di bidang akademiknya bersmaan denagn lemahnya interaksi dengan saudaranya. Seorang yang dihormati istri dan disayang anaknya walaupun beberapa mutarobinya ingin berpindah darinya. Seorang ikhwah yang ahli merencana dan memproyeksikan, tapi kerap mengecewakan dalam implementasinya.
Arogansi struktur kepada ikhwah, buruknya teladan p[ara ikhwah, manipulasi struktur, dan ketidakadilan social adalah peluang setan untuk embghembuskan virus individualisme dalam tubuh jamaah ini. Sementara, posisi ukhuwah sudah jelas. Kiranya kita perlu mendiskusikan tentang penguatan kepentingan indivisu dalam amal jama’I ini. Persoalanya bukanlah siapa mengalahkan siapa, akan tetapi bagaimana mengakui kepentingan yang lain, baik kepentingan individu ataupun dakwah.
8.Murobbi sebagai Qoddi
Islam membentuk mentalitas ilmiah dengan cara menolak sikap emosional serta menetapkan fungsi netral dan obyektif. Murrobi kerap kali sult menghindarkan diri dari peran qodi. Beberapa episode kehidupan murrobi menunjukkan bahwa pada kenyataan kesehariannya seorang murrobi sulit untuk tidak berperan sebagai qpdi.. Seorang murrobi sulit untuk tidak menjadi qodi ketika mendapatkanpengaduan dari seorang anggotanya tentang ketidakadillan anggotanya yang lain. Seorang murrobi juga sulit untuk tidak menjadi qodi ketika friksi atau konflik anatara anggota denagn pasanganya. Murrobi dituntut untuk memberikan keputusan , atau memberikan sebuah pendapat 9hukum) atau menyelesaikan perselisihan atau persengketaan. Sebaliknya, jika peran qodi ini tidak berjalan dengan efektif maka akan lebih banyak permasalaha yang harus diselesaikan oleh struktur dakwah. Hal ini akan memebrikan pengaruh negatif terhadap efisiensi dakwah.
Murrobi harus belajar yang berkesinambungan untuk menjadi qodi sebagai konsekuensi dari urgensi fungsi murrobi sebagai qodi bagi anggotanya. Dengan proses pembelajaran yang baik dan berkesinambungan, seseorang akan memeliki kemampuan yang baik. Sebaliknya, kemalasan dan keengganan untuk belajar menjadikan seorang murrobi memiliki beberapak kekurangan dalam menjalankan tugas.
Urgensi penguasaan funngsi qodi bagi murrobi
a.Islam menganggap fungsi qodi sebagai fungsi penting kekhilafahan
b.Asas pertama dari peradilan Islam adalah khilafah ynag adil
c.Menjadi qodi adalah tugas para nabi.
d.Islam adalah peradilan
e.Murrobi menjadi qodi merupakan keniscayaan dan kebutuhan diri.